Mengenal Tembok Ratapan Solo - Sudut Nostalgia dan Sejarah di Jantung Kota
Surakarta atau Solo selalu punya cara unik untuk menamai sudut-sudut kotanya. Salah satu yang paling menarik perhatian wisatawan maupun warga lokal adalah istilah "Tembok Ratapan Solo".
Bukan merupakan situs religi seperti yang ada di Yerusalem, tempat ini justru menjadi simbol bertemunya sejarah kolonial, geliat ekonomi rakyat, hingga tempat "curhat" warga sambil menikmati suasana kota. Penasaran di mana lokasinya dan mengapa dinamakan demikian? Simak ulasan lengkapnya berikut ini.
Di Mana Lokasi Tembok Ratapan Solo?
Sebutan "Tembok Ratapan" di Solo sebenarnya merujuk pada dinding tinggi di sepanjang koridor Jalan Arifin, tepatnya di area belakang Balai Kota Surakarta dan Gereja Santo Antonius Purbayan.
Tembok besar berbatu ini merupakan bagian dari benteng atau bangunan tua peninggalan era kolonial Belanda. Karena strukturnya yang tinggi, kokoh, dan berkesan kuno, banyak anak muda Solo menjadikannya sebagai latar belakang foto yang estetik (instagramable).
Mengapa Dinamakan Tembok Ratapan?
Ada beberapa versi mengapa masyarakat menyebutnya demikian:
Tempat Curhat Warga: Konon, dahulu banyak orang yang duduk-duduk di sepanjang tembok ini pada malam hari untuk sekadar melamun atau berbincang santai (curhat) tentang kerasnya hidup, sehingga muncul istilah "meratap".
Kesan Arsitektur: Struktur tembok yang tinggi dan berwarna kusam memberikan kesan melankolis, mirip dengan atmosfer Tembok Ratapan yang asli, meski fungsinya jauh berbeda.
Pusat Kuliner Malam: Di sekitar tembok ini, berjejer pedagang kaki lima, mulai dari Hik (angkringan) hingga susu segar. Tempat ini menjadi pelarian warga untuk melepas penat setelah bekerja seharian.
Daya Tarik Tembok Ratapan Solo Saat Ini
Saat ini, area di sekitar tembok Jalan Arifin telah ditata lebih rapi oleh Pemerintah Kota Solo. Berikut adalah hal yang bisa Anda lakukan di sana:
Wisata Fotografi: Tekstur tembok tua yang ikonik memberikan kesan vintage dan rustic bagi para pecinta fotografi atau konten kreator.
Wisata Kuliner Malam: Menikmati nasi kucing atau susu segar sambil duduk di trotoar di bawah naungan tembok bersejarah memberikan sensasi "Solo Banget".
Dekat dengan Titik Nol Solo: Lokasinya yang sangat dekat dengan Pasar Gede, Vastenburg, dan Balai Kota membuat area ini mudah dijangkau saat Anda melakukan city tour.
Tips Berkunjung
Jika Anda ingin menikmati suasana terbaik di Tembok Ratapan Solo:
Datanglah pada Sore atau Malam Hari: Cahaya lampu kota memberikan nuansa yang lebih dramatis dan udara lebih sejuk.
Gunakan Pakaian Vintage: Agar foto Anda semakin serasi dengan latar belakang tembok tua kolonial.
Tetap Jaga Kebersihan: Sebagai cagar budaya dan area publik, pastikan tidak mencoret-coret tembok atau membuang sampah sembarangan.

Posting Komentar